Sunday, November 22, 2009

Strategi Bakar Kapal..

"Wahai seluruh pasukan, ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian laut, dan di depan kalian adalah musuh. Demi Allah, satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Musuh dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian adalah pedang.” (Pidato Thoriq bin Jiyad di Jabal (bukit) Thoriq - Gibraltar, setelah membakar kapal-kapalnya) [1]

Waktu itu hari selasa pekan ketiga Mei 2009. Sore hari ada janji untuk bertemu dengan Pak Rahmat untuk mediskusikan progress TA dan persiapan ke Tokyo. Tiba tiba Pak Rahmat melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke MMU Lab siang harinya. Tenyata sore harinya beliau ada rapat jadi semua jadwal konsultasi hari ini dilakukan saat itu juga di MMU Lab.

Satu per satu Pak Rahmat mendatangi anak-anak S1 dan S2 yang sedang mengerjakan skipsi dan thesis, semuanya dengan bimbingan beliau. Saat itu, saya pertama kali melihat Pak Rahmat memberi 'wejangan' dengan nada yang bikin deg-degan. Tibalah saatnya beliau duduk di samping saya dan bertanya "Gmn progressnya Mas Chandra?". Saya menyampaikan apa adanya. Ketika itu baik program maupun laporan progressnya tidak memuaskan. Hmm.. siap mental nih buat di-semprot kayak anak-anak S2.

Kekecewaan dan rasa tidak puas tidak dapat disembunyikan dari wajah Pak Rahmat. Lab sunyi sesaat, tak ada suara dari saya, beliau, apalagi anak-anak MMU Lab lainnya. Akhirnya beliau memecah keheningan dengan berkata, "Kalau saya lihat mata kamu, kamu tuh seger banget. Ga seperti orang yang sedang kerja keras. Kamu belum sungguh-sungguh dan belum mengeluarkan semua kemampuan." Aduh, ingin rasanya menceritakan bahwa weekend kemarin saya nginep di Lab demi ngejar target TA, pulang-pulang sakit (mual dan pusing), dan senin harus istirahat di rumah dan tidur cukup pada malamnya. Itulah kenapa hari ini (selasa), saya dateng kempus dengan FIT dan segar. Tapi, saya tidak ingin banyak beralasan dan menurunkan standar beliau terhadap saya.

Ketika saya berpikir akan mendapat wejangan susulan yang serupa dengan yang diterima anak-anak S2, beliau mengatakan dengan lembut "Mas, kamu tahu Muhammad Al Fatih? Dia bisa memenangkan peperangan karena rajin bangun malam." Pikiran saya langsung melayang ke kisah emas penaklukan byzantium konstantinopel oleh pasukan yang dipimpin oleh pemuda yang tidak pernah meninggalkan qiyamul lail semenjak akil balik tersebut. Sebuah kisah yang sudah diprediksi Rasulullah dalam hadisnya:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. [2]

Beberapa kali pasukan muslim coba untuk menembus konstantinopel. Akhirnya, 6 Abad setelah rasulullah berkata demikian, hal itu menjadi kenyataan. Ternyata pasukan dan komandannya benar-benar yang terbaik. Mereka punya kedekatan yang luar biasa dengan Allah swt. Subhanallah..

Cerita pada siang itu masih berlanjut. Akhirnya Pak Rahmat menanyakan tentang persiapan saya ke Tokyo. Rencana yang ditetapkan bersama Prof. Hirota pertengahan Maret lalu, saat beliau mengunjungi Depok, adalah 13 Juni - 11 Juli 2009. Pak Rahmat meminta saya untuk sidang sebelum berangkat ke Tokyo, saya menyanggupinya, dan inilah yang kita sebut sebagai planning.

Sepertinya mulai terasa berat untuk sidang sebelum ke Tokyo. Terlintas dalam pikiran saya plan B, mungkin bisa sidang setelah pulang dari Tokyo. Saya bisa menyempurnakan TA di sana, sepertinya menarik. Langsung saya utarakan siang itu juga menyambung pertanyaan Pak Rahmat tentang persiapan ke Tokyo, "Pak Saya punya Plan B, gmn klo sidangnya setelah dari Tokyo. Jadi begini..." Belum sempat saya menyampaikan pendapat apalagi menyertakan argumen, Pak Rahmat langsung memotong dengan tegas "Ga bisa. Klo kamu punya Plan B, kamu ga akan mati-matian menjalankan Plan A." Suasana kembali hening, namun kali ini tidak berlangsung lama. Beliau kemudian melanjutkan, "Kamu inget Gibraltar? Bagaimana dia bisa menang?" Yup, dia dan pasukannya bisa menang karena mereka tak punya pilihan lain selain harus menang. Begitu berlabuh, Thoriq bin Jiyad memerintahkan untuk membakar kapal-kapal yang membawa mereka dari Afrika ke Eropa. Ini berarti tidak ada jalan mundur dari medan perang.

Sepertinya Pak Rahmat tidak punya banyak waktu lagi untuk mengurusi saya. Dia harus segera pergi. Beliau secara taktis memberikan langkah-langkah teknis yang harus saya lakukan ke depan. Akhirnya beliau menutup diskusi siang itu dengan berkata "Ga ada Plan B, yang ada hanyalah Plan A atau mati sebagai syuhada!"

Setelah diskusi itu, saya sadar bahwa saya harus melakukan sesuatu. Contact Japanese Embassy untuk segera mengurus visa. Contact makara tour and travel untuk booked round trip ticket. Contact academic advisor untuk memberikan tanggal fix berangkat ke Tokyo dan meminta menyiapkan segala sesuatunya. Setelah melakukan itu, saya sadar bahwa saya telah membakar kapal. Tak ada pilihan lain selain harus fokus pada plan A, bekerja keras, berdoa, dan bertawakal.

Hidup memanglah sebuah rangkaian keputusan penting. Seringkali hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Teruslah mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah. Semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yang benar, memberikan kekuatan untuk melaluinya, dan meridhai niat dan usaha yang kita lakukan.

"Jika engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah"
(QS. Ali Imran:159)

Thuwal - KSA, 22 November 2009
2:57 am (GMT+3)

~ sebuah fragmen pelajaran berharga dari Pak Rahmat, best Ph.D graduate student from Tokyo Institute of Technology(TIT) 2006 dan peneliti muda terbaik Universitas Indonesia (UI) 2008. Sudah setengah tahun berjalan, tapi masih terkenang jelas.

References:
[1] http://www.antaranews.com/print/?i=1246361813&t=k
[2] http://www.facebook.com/note.php?note_id=77665247122&comments

7 comments:

agungfirmansyah said...

Pak Rahmat memang mantab.

Fuzzy Perfectionist said...

bener Gung!.. Beruntung banget kemarin saya dibimbing beliau.

erain said...

mirip sama yang baru aja saya baca di buku Setengah Isi Setengah Kosong :)
Sepertinya saya bener2 masih harus belajar banyaaak hal..

hatohato said...

mungkin kisah2 skripsi ataupun TA banyak seperti ini ya..

Fa said...

Ih Chandra... jd mau nangis bacanya....

*lagi ngerjain tugas AI*

Aku bakar kapal apa ya? Yacht2 yang diparkir di marina kali ya ^^;;

Chandra Prasetyo Utomo said...

@erain: yup, masih harus belajar banyak hal..
@Toha: punya kisah yang sama juga ya Akh..
@M'Fara: wah bahaya, jangan donk Mba :)

Anonymous said...

bonds founded trivial grassroots fabianism whereby ramblers suppose principals qkwez pulpfont
lolikneri havaqatsu