Dua kalimat diatas keluar dari bibir dua dari tiga orang dewan juri setelah acara puncak pengumuman KKTM bidang Pendidikan tingkat UI pada Selasa (22/4) di GKFM. Bahkan MC mengajak saya ke ruangan dewan juri untuk mengetahui nilai akhir dan melihat betapa tipisnya perbedaan saya dengan tiga kelompok diatas. Ga tipis-tipis amat sih bedanya.
Optimisme Sesaat
Saya presentasi kedua. Sebelum dzuhur ada 4 kelompok yang presentasi. Seusai presentasi kelompok ke-4 saya mengatakan kepada Sidik dan Ria bahwa kita masih yang terbaik. Baik itu dari segi ide, penulisan makalah, maupun presentasi. Parameternya sederhana saja performance presentasi dan komentar para dewan juri. OK bismillah.
Namun, setelah ishoma persaingan KKTM Pendidikan yang sesungguhnya seperti baru dimulai. Ada juara Limas yang memakai makalahnya untuk kompetisi ini, ada Mapres Fasilkom yang pembimbingnya Mba Lina (wah ga aci nich), dan ada best speaker Pimnas tahun lalu. Total ada 9 tim finalis yang presentasi tapi 3 kelompok itulah yang menjadi pesaing serius. Sebelum pengumuman saya bilang ke Sidik, “Sepertinya ada 3 tim yang lebih baik dari kita.” Ya sudah tawakal sajalah. Ternyata memang benar si Juara Limas Juara III, si Best Speaker Juara II, dan si Mapres juara I. Sisanya... ya jadi pecundang.
Kegagalan Beruntun
Hasil sore itu benar-benar melengkapi kegagalan saya dalam dua pekan terakhir. Sejumlah hasil buruk seolah belum bertepi. Mapres Fasilkom, Tes Teknis Depdiknas, TOEFL, CS League, Proposal PSA, dan Ta’aruf (ga deh...). Males banget nyeritain satu-satu. Khusus buat CS League, karena ini tim, saya mau minta maaf kepada seluruh pendekar Ganteng di tim Ganteng FC. Perjalanan kita terhenti di semifinal. Maaf... Maaf... Not so bad but still disappointing.
Kecewa? Pasti, tapi saya juga harus tahu diri. Semuanya saya persiapkan dengan minimalis di waktu-waktu sisa. Wajar saja jika hasilnya seperti ini.
Trauma? Tidak sama sekali. Pantang bagi seorang muslim untuk berputus asa. Tahun depan saya akan ikut lagi dengan persiapan yang lebih matang. Untuk menang di kompetisi seperti ini, memang ganteng* saja tidak cukup. Harus mengeluarkan yang terbaik untuk jadi yang terbaik.
Masih ada satu jalan tersisa meraih tiket Pimnas, yaitu melalui “Be Smart with Computer Adaptive Test”, proposal PKM Penerapan Teknologi yang dibiayai dikti. Saya benar-benar ingin ke Pimnas dan mengukir prestasi disana dengan status peserta lomba utama.
Thanks Anyway
Terima kasih buat Ria yang udah bolak-balik Salemba-Depok, bener-bener calon dokter yang militan. Banyak dapet pelajaran berharga juga dalam membuat karya tulis. Terima kasih juga buat Sidik yang finishing-nya benar-benar mantap. Juri yang paling kritis tentang penulisan sampe speechless, makalah yang sempurna penulisannya.
Mohon maaf atas segalanya. Jangan kapok ya... Saya lebih suka memaknai kegagalan sebagai kesempatan untuk memulai kembali segalanya dengan lebih cerdas. Tepat seperti yang diajarkan oleh John C Maxwell dalam bukunya “Mengembangkan Kepemimpinan dalam Diri Anda”. Masih banyak kesempatan untuk mewujudkan mimpi dan keinginan yang belum tercapai.
Walaupun karya tulis kita tidak menjadi juara, mudah-mudahan usaha kita tercatat sebagai thalabul ilmiy dan bernilai kebaikan dimata Allah swt. Amin.
Syukron Jazakumullah Khairan Katsir.
*berada diatas rata-rata
Tulisan Terkait :
Tidak Ada Medali Perak Untuk Juara Kedua @LifeStyle
“... Macan harus kembali turun gunung. Jiwa perfeksionis itu harus kembali dibangunkan setelah tertidur karena lelah mengerjakan banyak hal yang harus selesai dengan sempurna. Dengan penuh kerendahan hati saya ingin kembali menempatkan diri pada kasta dimana saya seharusnya berada. Menghasilkan apa yang seharusnya saya hasilkan. Mendapatkan apa yang seharusnya saya dapatkan. Betapapun mahalnya harga yang harus dibayar...”
Make a Wish in Special Day @LifeInside
“D mlm yg sama 21thn lalu,lahir 1org insan.Met milad y,Akh.Moga nt spt hrapn ortu nt,jdchandra" pnerang bg dinul Islam.Mg nt tmbh ganteng dunia akhirt" (628136E+12 - RM)....”



