Saturday, March 8, 2008

Indonesia Tidak Boleh Jadi Surga Pornografi

Persengketaan Hati dan Mata
Ketika terjadi persengketaan antara hati dan mata, dan jurang perselisihan semakin melebar antara keduanya, masing-masing pihak menyalahkan rivalnya atas wabah dan penyakit yang menimpa. Lalu keduanya meminta keputusan hukum dari tubuh. Pada akhirnya tubuh menyalahkan mata.
“Hatiku berkata kepada mataku, ‘Engkaulah penyebab sakitku’, sedangkan mata mengira hatilah yang menjadi penyebabnya.”
“Tubuh bersumpah bahwa mata berdusta, matalah yang menimpakan bencana kepada hati.”
Akan tetapi mata naik banding dan peradilan dimulai kembali untuk melerai persengketaan antara keduanya sekali lagi. Setelah terjadi perdebatan, hakim mengeluarkan keputusan yang menyalahkan keduanya. Dalam keputusan hukumnya, disebutkan, “Mata dan hati kedua-duanya bersekutu dalam suatu tindak kejahatan pembunuhan. Masing-masing dari keduanya memiliki perannya sendiri dalam kasus ini.”
“Aku diantara kedua musuh, yaitu hati dan mataku. Mata memandang dan hati terangsang. Tujuannya adalah membinasakanku.”
Melindungi Hati dari Ilfiltasi Setan
Hati bagaikan rumah dan mata bagaikan pintunya. Tidaklah maling masuk kedalam rumah melainkan karena pintunya terbuka. Apabila maling masuk ke dalamnya, lalu ia mencuri perhiasan iman dan permata takwa, lalu meninggalkan hati dalam keadaan porak poranda dan terlantar, maka waspadalah terhadap maling ini. Kita harus waspada karena gerakannya sangat ringan. Untuk melakukan infiltrasi dia hanya memerlukan waktu sekejap saja.
Karena itu ketika Nabi saw. Ditanya tentang pengelihatan yang incidental, beliau menjawab “Palingkanlah Pandanganmu!” (HR Muslim).
Dengan kata lain, kuncilah pintu dan berikanlah penjagaan yang ketat dengan bala tentara berupa perasaan yang merasa selalu diawasi oleh Allah, dan janganlah kamu membuka pintunya walau sekejap. Pada saat itulah rasa putus asa menguasai iblis dan ia pulang dengan kecewa serta meninggalkanmu dalam keadaan selamat.
***
Untaian kata diatas merupakan kutipan dari rangkaian mutiara hikmah yang ditulis oleh Khalid Abu Syadi dalam buku Shafqaatun Raabihah (Kaifa Tahjizu Maq’adan fil-Jannah) yang diterjemahkan menjadi buku yang berjudul Bisnis yang Tak Pernah Rugi (Tips Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat) terbitan Rabbani Press. Sebuah pencerahan solutif yang menyejukan atas kekhialafan saya. Saya juga pernah mengutip buku ini saat saya mengumbar pandangan.
Kini, sudah saatnya malaikat pencatat keburukan beristirahat dan memberi kesempatan kepada malaikat pencatat kebaikan untuk menulis amal-amal shaleh. Agar lembaran-lembaran yang tadinya hitam menjadi putih cemerlang.
Mapres Harus Tahu Jawabannya!
Di Indonesia pornografi melalui berbagai macam media, termasuk internet, begitu bebas beredar dan mudah dinikmati oleh siapa saja termasuk anak-anak. Kalau mau membandingkan, Amerika yang notabene negara paling liberal di dunia, membatasi pornografi dengan melarang anak-anak di bawah umur membeli majalah ‘dewasa’. Bagaimana dengan kita? Berbagai majalah sensual dapat dimiliki siapa saja di pinggir jalan dengan harga tak lebih mahal dari sepotong roti. Dua video porno diproduksi setiap harinya. Tak heran jika Dunia memprediksi Indonesia akan menjadi surga no.1 bagi pornografi.
Kalau berbicara masalah dampak, terlalu banyak yang harus diceritakan. Tinggal sekarang bagaimana mengatasi masalah ini. Ternyata jauh lebih kompleks dari yang dikira.
Lima ratus anggota dewan tidak pernah tuntas membahas RUU Anti Pornografi. Terlalu banyak kepentingan yang bermain sehingga memunculkan banyak isu yang perlu ditelaah. Isu bisnis, isu pendefinisian pornografi (disamarkan dengan seni), dll. Saya sendiri menilai bahwa ini merupakan bagian dari Gadzwul Fikr (perang pemikiran).
“Fenomena ini (pornografi di Internet) tidak bisa didiamkam. Harus ada yang mengkaji. Saya tidak tahu bagaimana solusinya. Mapres harus tahu jawabannya!” Demikian Bu Ami menutup diskusi dengan saya beberapa hari silam.
Saya sendiri sebenarnya tidak mau sesumbar untuk menjadi Mapres I Fasilkom. Tahun 2008 ini kan ‘jatah’nya anak 2004. Lagi pula, saya belum ada prestasi yang benar-benar bisa dibanggakan. Berat memang, namun bukan sesuatu yang tidak mungkin. Mudah-mudahan memang tidak ada sistem seperti itu. Saya yakin panitia bisa fair.
Hal yang terpenting saat ini adalah saya ingin mengkaji pornografi dengan sebaik-baiknya. Selain untuk dijadikan karya tulis dalam Kompetisi Mapres, mudah-mudahan dapat menjadi bagian dari solusi. Saya tidak ingin Indonesia menjadi surga bagi pornografi. Negeri ini sudah terlalu banyak dirundung duka. Sudah saatnya lahir generasi rabbani yang memberikan kejayaan kepada negeri ini dengan ridho Ilahi.
“Setiap zaman ada tantangan yang harus dihadapi. Oleh sebab itu, di setiap zaman Allah juga mengirimkan rizal-rizal yang siap menjawab tantangan tersebut.”
* Ditulis 6 Jam menjelang partai balas dendam, antara Ganteng FC dengan 3309, atas kekalahan pada final CS League tahun lalu.

0 comments: