Saturday, November 24, 2007

The Worst Case

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (Al Baqarah:167)

Selalu ada sesuatu yang berbeda ketika saya back to school setiap pekannya. Kali ini jumat(23/11) dalam sesi kultum mentoring, ternyata yang dapat giliran adalah the most funny mentee. Dia membuka sesi kultum dengan ayat yang senada dengan diatas. Waduh… saya lupa surat apa dan ayat berapa. Intinya dia menjelaskan firman Allah yang menerangkan kejadian pada hari pembalasan nanti. Kala itu banyak manusia yang masuk neraka karena melalaikan kehidupan di dunia alias tidak dapat memanfaatkan dengan baik. Mereka meminta untuk dapat dikembalikan dunia dan berjanji akan berbuat baik. Ini adalah sesuatu yang begitu mengerikan. Kenapa? Bayangkan Anda meminta sesuatu yang jelas-jelas itu merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin. Anda meminta untuk dibebaskan dari siksa api neraka yang kekal dengan meminta dikembalikan kedunia padahal Anda adalah orang cerdas dan beruntung karena dulu pernah mendapatkan peringatan seperti ini di dunia. Namun, sayangnya Anda tidak cukup cerdas untuk keluar dari golongan orang-orang fasik.

Yap, begitulah kira-kira inti kultumnya. Cukup untuk membuat saya tersentak. Namun, karena anaknya asik, demikian juga dengan sebagian mentee lainnya dalam kelompok saya, jadi sambil dibawa asik aja. Ada ilustrasi menarik yang coba disampaikan pada kesempatan itu untuk lebih menggambarkan sebuah penyesalan. Berdasarkan waktu, ada beberapa tingkatan penyesalan dalam hidup, diantaranya:

1. Penyesalan Sehari : (e.g. salah masak nasi jadi bubur)

Ketika kita ingin memasak nasi tapi malah menjadi bubur, maka kita seharian akan makan bubur. Besoknya bisa masak nasi lagi deh...

2. Penyesalan Sepekan : (e.g. terlewatkan nonton petandingan sepakbola)

Ketiduran sampai terlewatkan big match, apalagi kalau yang bertanding adalah tim favorit kita. Wah bakal nyesel selama sepekan, baru bisa nonton lagi pekan depan. Kalau saya sih, gagal memenangkan CS League kali yaa…

3. Penyesalan Sebulan : (e.g. salah potong rambut)

Kalau kita salah potong rambut, misalnya mau spike tapi jadinya cepak, terpaksa harus nunggu sebulan untuk rambut tumbuh lagi.

4. Penyesalan Setahun : (e.g. tidak lulus SPMB)

Gagal SPMB, musti nungu tahun depan untuk bisa dapet universitas dan jurusan idaman. Kalau gagal lagi, nunggu setahun lagi.

5. Penyesalan Seumur Hidup : (e.g. salah pilih jodoh)

Nah, ini lumayan telak. Seumur hidup kita akan bersama dengan pasangan kita, klo salah pilih nyeselnya bakal seumur hidup lho… Tapi jangan khawatir, ada buku yang judulnya “Ketika Pasangan Tidak Seindah Harapan”. Mungkin bisa mengurangi derita.

6. Penyesalan dunia akhirat : (e.g. gagal memanfaatkan kesempatan hidup di dunia)

Naudzu billa min dzalik. Ilustrasinya ada di bagian awal. Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang-orang seperti ini karena ini adalah seburuk-buruknya penyesalan.

Wallahu alam bisshawab.

Nothing to Lose

There's something you don't understand
I want to be your man

Nothing to lose
your love to win
hoping so bad that you'll let me in

I'm at your feet
waiting for you
I've got time and nothing to lose

(MLTR – Nothing to Lose)

Do like music?
Yes, of course!

What’s your favorite singer?
Hmm… I like Michael Learns To Rock (MLTR) and The Cranberries, Mom!

What the most interesting song do you like from them?
I think I like all the song, but ‘Nothing to Lose’ from MLTR and ‘Odd To My Family’ from Cranberries are so interesting.

What the song is about?
I don’t know exactly.

So.. why you like that song?
Because I enjoy when I listen or sing that song.

That the conversation between me and my facilitator in Impromptu Speech Class. How stupid am I? I like the song but I don’t know exactly about the story of the song. Just listen and enjoy it. Yes, like a baby, Guys!

Tuesday, Nov 20th at 2 am, I want to do My 7th Software Engineering Homework – Midterm Exercises that should collect at 9 am before the class. OO.. now you know how dead liner am I. When I want to download the file from SCeLe, I found some terrible. What the h**l is going on, I can’t download the file. SCeLe show message: the file you requested is not available. I try to download in e-learning class but I have the same result. I try to call some of my friend. All of them don’t accept my call. They must sleep. How I can do this task? Ohh.. I just send message to some people to send me the file. I also send to Software Engineering Regular Class General Forum about the accident.

Truly, that’s some other tasks that I have done in this week, like Responsibility Report (what should I call it) of Syiar Division in Moslem Alumni Family (Kalam) 20 and feedback of 3rd and 4th Discrete Mathematics Homework. I remember the conversation above that happen in Sunday, Nov 18th. Forget all tasks. I plug earphones to my COMPAQ. I play all MLTR song in Winamp. First, just enjoy the music then I listen the lyrics comprehensively. I try to understand the story of all song. Oh my God, the songs have deep meaning. So Deep.

No tahajud at that night. Why? MLTR make me fly and forget it? Not at all. I just won’t to take a bath, too cool. I have to take a bath (called junub) if I want to pray. Yes… I have sweat dream with sweat women that night. The women that I don’t know how she can enroll in my dream. Every sweat dream is unpredictable. You don’t know when and with whom you do it. Even women that never talk to you in real world can participate in your dream. In the opposite side, although the women that so close to you and you remember her before you sleep, you can’t make sure she will follow you in your sweat dream. Who organize it? That’s the Greater Allah who knows us more than we know ourselves. He loves us more than we know. Very very unpredictable! If there’s no homework that has to collect in the morning, I would in my bed until Shubuh. Now, you know why I postponed do all task to listen MLTR until adzan call me and other Moslem to pray.

OK forget my sweat dream. What I want to say is: if you like foreign song, ask yourself whether you know the story of the song or not. If the answer is no, try to understand. Listen it again and again until you know the story. Maybe it can make you love that song more than before.

Tuesday, November 20, 2007

Black Angel

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Full of Charge. Pagi Tarbiyah Jasadiyah (CS League), siang Tarbiyah Fikriyah (Mapres School), dan malamnya Tarbiyah Ruhiyah (Saturday Night Fever). Sampai akhirnya saya mengalami kejadian yang membawa pada suatu kesimpulan: ternyata masih ada orang seperti ini pada zaman sekarang.

Seperti biasa kalau sabtu malam saya ada Saturday Night Fever bersama teman-teman SMA. Sebuah istilah yang biasa kami pakai untuk menggambarkan pertemuan pekanan untuk sama-sama mencharge ruhiyah. Kali ini berangkat dari Kampus karena abis ikut sekolah mapres sampai jam17.45. Abis shalat magrib langsung tancap gas ke rumah boz di daerah condet.

Saya membawa motor dengan kecepatan tinggi untuk mencapai SPBU terdekat. Yap… sejak berangkat dari rumah digital fuel indicator display sudah berkedip-kedip. Mau ngisi pas berangkat, takut telat sampe kampus. Hmm… Apa boleh dikata, si kharisma berhenti ketika jarak kami tinggal 500m dari SPBU Petronas atau 700m dari SPBU Pertamina. Saya terpakasa turun dan mendorong.

Waktu itu memang masih pukul18.30, namun langit sudah hitam dan suasana disana juga tidak begitu ramai bahkan ada beberapa daerah sepi dan gelap yang saya lewati. Ketika saya sudah mendorong sekitar 200m, tiba-tiba ada sebuah motor berpenumpang dua orang berhenti di depan saya. Salah seorang dari mereka turun dan menghampiri saya seraya bertanya “Kenapa Bang?”. Saya menanggapi “Bensin saya habis”. Dia yang masih menggunakan masker hitam itu pun langsung menawarkan bantuan “Udah, Abang naik motor aja nanti temen saya dorong pake kaki dari belakang”. Sepintas saya senang namun perasaan was-was tetap mendominasi. Mereka sama sekali tidak melepaskan helm dan masker saat berbicara dengan saya. Terlebih ketika di pertigaan tempat kita bertemu saya menunjuk arah kanan yang berarti ke Petronas(300m), namun mereka malah mengajak saya kekiri yang berarti Pertamina(500m).

Dengan penuh kewaspadaan saya menaiki motor dan seketika itu pula salah seorang dari mereka mendorong motor saya dengan kaki. Ada tiga hal yang ada di pikiran saya pada waktu itu: (1)Allah, (2)kasus kriminal yang kondisi awalnya persis dengan saya, (3)jurus-jurus silat dan beladiri praktis yang pernah saya dapatkan. Walau hanya 500m namun perjalanan terasa begitu panjang karena kami melewati daerah yang gelap dan sepi. Akhirnya saya melihat plank pom bensin dengan tulisan 300m. Salah seorang dari mereka pun teriak “300m lagi Bang”. Perjalanan pun berlanjut, perasaan saya mulai tenang dan mempercayai mereka. Sampai Alhamdulillah saya melihat pom bensin.

Beberapa meter sebelum pom bensin kaki yang mendorong motor saya terlepas dan mereka pun langsung tancap gas sambil berteriak “Udah sampe Bang duluan ya!…” Saya pun membalas, “OK terima kasih ya…”. Wah saya belum sempat berkenalan, mereka sudah menghilang tanpa jejak. Benar benar dua anak muda yang ikhlas dan peduli.

Ambil Hikmahnya…

Apa yang Anda lakukan jika Anda sedang menaiki kendaraan bermotor dan melihat seorang sedang mendorong motornya di pinggir jalan? Padahal sepintas tidak ada masalah dengan kondisi motornya. Bukan satu dua kali saya mengalami melihat kondisi diatas. Namun, saya hanya sedikit melihat dan terus meng-gas motor saya. Egois ya?… Sangat EGOIS!..

Saat mendapatkan pertolongan Allah melalui dua orang disaat bensin saya habis, saya memang sangat bersyukur. “Alhamdulillahi rabbil alamin. Jazakallah khiaran katsir… friends. Semoga Allah memberikan balasan yang luar biasa kepada kalian.“ Doa tersebut secara lirih saya ucapkan. Namun kemudian saya berpikir kenapa saya pantas mendapatkan pertolongan seperti ini padahal dalam kondisi sebaliknya saya malah acuh tak acuh.

Apa karena sabtu malam tepat sepekan sebelumnya (seusai mengerjakan tugas SI) saya, Anjar, dan Hari membantu Ilman yang vespanya mogok terendam di Poltek dan harus di tarik dengan tambang? Kala itu pukul20 dan hujan turun dengan derasnya. Ketika Ilman bilang “maaf nih jadi ngerepotin”, saya memang menanggapi “semua orang bisa mengalami kondisi seperti ini pada motornya dan yang kita butuhkan adalah bantuan dari orang lain”. Atau karena saya sering mengantar teman dan keluarga atau bahkan meminjamkan motor saya untuk keperluan yang bermanfaat dan membantu orang lain?

Hah… tak baik mengingat kebaikan-kebaikan diri sendiri. Bisa-bisa jadi ria alias syirik kecil. Yang jelas Allah masih memberikan jodoh kepada saya dan Kharisma 125D (KD) untuk tetap bersatu. KD sudah begitu banyak memberikan manfaat dengan menunjang mobilitas saya dalam kegiatan apapun. Yap.. bersama KD saya sanggup bertahan di teriknya matahari, mengarungi derasnya hujan, dan menembus pekatnya malam untuk tiba di tempat dimana saya seharusnya berada. Kedepannya harus jauh lebih bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Satu pelajaran penting juga, jangan lupa isi bensin kalau sudah mau habis. Jangan ambil resiko!!!

Objective Result

Empat gol yang tercipta melalui kaki saya tak cukup untuk membuat Ganteng FC meraih angka penuh saat menghadapi Mourinho FC dalam lanjutan penyisihan Grup B CS League 0708. Dalam pertandingan wajib menang yang berlangsung pada Sabtu(17/11) pukul 11.00 tersebut, kami harus puas berbagi angka setelah bermain imbang 5-5 (3-4).

Commitment

Pentingnya kami memenangkan pertandingan membuat saya harus izin ke panitia untuk tidak mengikuti sesi pertama secara full pada Sekolah Mapres yang berlangsung sejak pukul 9 pagi itu di Gedung H Fakultas Psikologi UI. Hmm... padahal lagi seru-serunya. Materinya tentang penulisan ilmiah dan research yang disampaikan oleh Pak Misri, dosen Teknik Kimia FTUI. Mau bagaimana lagi kami sudah berkomitmen untuk menghadapi partai ini dengan serius setelah pekan sebelumnya tampil buruk.

Pertandingan sendiri dijadwakan berlangsung pada pukul 10.30. Kami janjian untuk kumpul jam10 di poltek untuk pemanasan sekaligus mengatur strategi. Karena satu dan lain hal kami bertanding sekitar pukul 11. Alhamdulillah tujuh pendekar ganteng sudah datang dan pemanasan sebelum pertandingan. Kami juga punya cukup waktu untuk mengatur strategi sejak awal sampai akhir pertandingan.

Diamond Formation

Pada pertandingan kali ini kami sepakat untuk memainkan pola Diamond. Satu orang central back (CB) sebagai stopper, dua orang winger(W) yang punya peran ganda dalam mengatur permainan baik offense maupun defense, dan satu orang central forward (CF) alias ujung tombak sebagai mesin gol. Formasi diamond bukan tanpa asalan. Ini merupakan hasil evaluasi pada pertandingan sebelumnya dan juga melihat lawan yang akan kami hadapi yang notabene punya keunggulan pada kecepatan dan kekuatan di lini depan.

Jika turun dengan kekuatan penuh kami punya pilihan pada masing-masing lini. Satu tempat di posisi CB dapat diisi oleh Bari atau Aqien, dua tempat di posisi W dapat diisi oleh Niko, Salman, atau Ichsan, dan satu tempat terkahir di posisi CF dapat diisi oleh saya atau Sidik. Namun, karena pertandingan dijadwalkan berlangsung pada pukul 10.30 otomatis Salman tidak bisa datang. Pencetak dua gol pada pertandingan pertama ini harus kuliah pada pukul 10. Yap, ini adalah adalah konsekuensi yang sudah kami pertimbangkan sejak awal kompetisi.

Harus diakui, ketidakhadiran Salman tidak hanya mengurangi kekuatan tim tetapi juga membatasi pilihan kami. Namun, Ganteng FC tidak bergantung penuh kepadanya. Akhirnya kami turun dengan starting line up : Ilman (GK) – Bari (CB) – Niko (LW) – Sidik (RW) – Chandra (CF). Yap, Sidik harus bergeser dari posisi terbaiknya demi menjalankan strategi tim.

Full of Determination

Seperti telah diperkirakan, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi. Mourinho unggul cepat (0-1) setelah salah seorang pemainnya berhasil mendapatkan peluang melepaskan tendangan tanpa pengawalan dalam jarak 3 meter dari gawang Ilman. Kami mencoba untuk tetap tenang karena pertandingan masih menyisakan banyak waktu. Alhasil, melalui umpan Niko dari sebuah kick ini saya dapat sekali mengontrol bola dan melepaskan tendangan voly melalui kaki kiri. Tidak keras, tapi entah mengapa mengarah ke tiang jauh padahal saya mengarahkan ke tiang dekat. Bola tersebut mulus masuk ke gawang Agung dan membuat kedudukan imbang (1-1). Bahkan kami berhasil membalikkan kedukukan (2-1) setelah saya berhasil mencuri bola dari Andri dan kembali memaksa Agung memungut bola dari gawangnya. Namun apa yang terjadi Mourinho berhasil mencetak tiga gol secara beruntut dan kami pun tertinggal (2-4). Beruntung sebelum turun minum Ichsan yang masuk menggantikan Sidik berhasil memaksimalkan umpan Niko untuk memperkecil kedudukan menjadi (3-4).

Dibabak kedua pertandingan tetap berlangsung dalam tempo tinggi. Namun kali ini hanya mengandalkan kekuatan dan kecepatan. Stamina yang menurun membuat skill dan koordinasi permainan ikut menurun. Sipur kembali membuat kami tercengang setelah tendangan kerasnya menembus gawang Ilman dan mengubah kedudukan menjadi (3-5). Saya kembali memperkecil kedudukan (4-5) setelah memanfaatkan bola mentah hasil tendangan Sidik yang gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Agung. Bahkan lewat situasi yang tidak jauh berbeda saya kembali mencetak gol untuk menyamakan kedudukan (5-5). Really the right man on the right place. Sebenarnya kami bisa tidur nyenyak malam itu jika berhasil memanfaatkan hadiah penalty kick di penghujung pertandingan. Namun, eksekusi yang gagal membuat pertandingan harus berakhir imbang.

Objective

Siapa yang puas dengan hasil ini? Kami kehilangan dua poin penting. Saya yakin Mourinho pun tidak puas. Namun, saya rasa ini hasil yang cukup objektif mengingat kedua tim sama-sama menampilkan permainan yang luar biasa. Saya sendiri cukup puas dengan permainan tim. Kalau melihat permainan Mourinho saya rasa mereka lebih layak untuk lolos dari grup B dibandingan Airbone (Smile dkk.). Fase penyisihan grup baru berlangsung 1/3 jalan. Ada beberapa kejutan yang terjadi. Sepertinya akan semakin menarik untuk melihat empat besar yang akan lolos dari grup neraka ini. Kalau ada satu tim yang benar-benar mau saya kalahakan dari grup ini, itu adalah 3309 (Renggo dkk.). Memang bukanlah hal yang mudah apalagi mereka membuktikan kesolidannya dengan mengalahkan GJTG (Ga Jago Tapi Ganteng) pada matchday 3rd. Namun, ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Apalagi kalau kami bisa turun dengan kekuatan penuh. So… Prepare To Meet Us!!!

Sunday, November 11, 2007

Saturday Night Fever

Final Version...

Sabtu(10/11) waktu setempat Tim Ganteng FC dipecundangi oleh Tim If And Only If dengan skor 2-4 (0-3) dalam lanjutan penyisihan Grup B CS League 0708. Hal yang menyakitkan adalah Para Pendekar Ganteng, yang pada pertandingan perdana menghancurkan Tim The Backyardigans dengan skor 10-0 ini, dipaksa mengakui kekalahan terhadap tim yang bermaterikan anak-anak 2007 itu dihadapan puluhan anak-anak fasilkom yang sedang mengikuti Sabtu Ceria.

Kesal, kecewa, sedih, stress, itulah perasaan saya ketika peluit panjang mengakhiri pertandingan pagi itu. Seolah tidak percaya bahwa kami baru saja dikalahkan oleh tim kemarin sore. Saya yakin hal ini juga dirasakan oleh Para Pendekar Ganteng lainnya. Secara eksplisit itu tergambar dari tatapan kosong dan raut muka kecewa yang tidak dapat disembunyikan oleh Ilman, Sidik, Niko, Bari, Aqien, dan Ichsan seusai pertandingan. Hasil buruk ini tentunya memberikan tantangan lebih berat kepada Ganteng FC untuk lolos dari Grup B yang banyak dibilang sebagai grup neraka. Bukan karena grup ini dihuni oleh para penghuni neraka, tapi karena dihuni oleh papan atas fasilkom seperti 3309 (juara CS League 07), GJTG (The best of 2005+), Airbone (The best of 2004+), dan juga si kuda hitam Mourinho FC. Ganteng FC yang notabene merupakan metaformosis dari Compaq FC (runner up CS League 07) harus bersaing dengan mereka dan 6 tim lainnya, yang tidak bisa diremehkan, untuk masuk dalam zona 4 besar Grup B dan lolos ke babak play off.

Saya tidak mau mengomentari permainan lawan. Mereka memang bermain baik. Penuh semangat, determinasi tinggi, kerjasama yang baik, dan beberapa pemain memiliki teknik futsal yang lumayan (hmm… katanya ga mau komentar). Saya hanya ingin sedikit mengkritik permainan Ganteng FC (termasuk saya). Dalam pertandingan tersebut kami tampil kurang semangat, kurang tenang, dan kurang konsentrasi. Hasilnya adalah banyak melakukan blunder (salah passing, miscommunication) terutama pada lini belakang, dan gagal mengoptimalkan sejumlah peluang di lini depan. Kalau mau jujur 4 gol yang mengoyak gawang Ilman bukan berasal dari skema penyerangan yang cantik tapi berasal dari blunder dan kemelut yang ada di depan gawang. Bahkan kalau mau lebih jujur lagi, kami sebenarnya bisa mencetak lebih dari 2 gol jika dapat mengoptimalkan sejumlah peluang yang seharusnya 90% menjadi GOAL.

Saya mencatat ada beberapa hal, baik teknis maupun nonteknis, yang menjadi penyebab kekalahan, diantaranya:

Minimnya Persiapan

Sebelum pertandingan melawan The Backyardigans kami sempat melakukan beberapa persiapan diantaranya latihan pada H-3, datang dan pemanasan 30 menit sebelum pertandingan, dan pengaturan taktik dan strategi. Pada pertandingan kali ini sepertinya semuanya tidak kami lakukan sebaik kemarin. Entah karena ada deadline tugas pada minggu ini, fokus kembali pada mabim, beberapa ada yang ujian pada hari jumat, atau konsentari yang terpecah karena harus mengurusi Sabtu Ceria. Saya sendiri orang yang perfeksionis, jadi seringkali tidak percaya diri jika melakukan sesuatu, termasuk pertandingan olahraga resmi seperti ini, dengan persiapan minimalis. Pada pertandingan sebelumnya saya datang 30 menit sebelum pertandingan bersama Sidik. Tak kurang 12 putaran lapangan basket saya lalui dengan berlari berbagai gaya untuk menggerakkan seluruh tubuh, tak kurang 10 menit saya habiskan untuk juggling mengakrabkan bola dengan sepatu supaya menghasilkan sentuhan-sentuhan yang harmonis, dan tak kurang 10 menit pula untuk melakukan latihan passing, dribbling, dan shooting. Beberapa saat sebelum pertandingan pun kami sempat mengatur taktik dan stategi secara matang termasuk formasi dan starting line up terbaik.

Pertandingan kali ini dijadwalkan berlangsung pukul 9, saya tiba sekitar pukul 8.20, jadi ada waktu 40 menit untuk warming up sebelum pertandingan. Namun, ketika sampai di Poltek banyak yang bermain voly di lapangan atas dengan bola biru-kuning. Seketika itu juga tangan saya terasa gatal. Saya lebih tahan melihat bola futsal daripada bola voly. FYI, percaya atau tidak, saat kelas X SMA saya pernah tidur beberapa hari dengan bola voly biru-kuning dan merah-hijau dalam pelukan. Anda harus merasakan bagaimana kelembutan kulit yang menyelimutinya, gemulai landai gerak parabolanya saat kita melakukan passing dengan benar, dan betapa cantik putihnya dia ketika bersih terawat. Saya pernah jatuh hati kepadanya sampai-sampai saya tak segan memberikan hukuman kepada anak voly yang menendang bola di luar permainan. Saya harus bersabar untuk bersentuhan dengannya karena harus pemanasan dulu. Namun, baru 3 putaran lari mengelilingi lapangan voly saya sudah tidak kuat menahan rasa gatal untuk bersentuhan dengannya. Maklumlah terkahir kali menyentuh itu saat langab 14 dan terakhir kali main itu saat Olimpiade UI 2007. “Pemanasannya sekalian main voly aja deh, toh ga apa-apa kan cuma main-main”.

Hmm… ternyata ini kesalahan besar. Walaupun dipenuhi canda tawa, saya bermain dengan sepenuh hati. Total saya melakukan lebih dari 25 kali push up sebelum servis demi mengembalikan kekuatan tangan. Awalnya anak-anak 2007 pada tertawa, namun akhirnya mereka kagum dan ikut push up bareng ketika saya mau servis. Berkali-kali juga saya melakukan lompatan-lompatan di depan net, bukan untuk me-smash, tapi untuk mengukur tinggi lompatan. Jarang latihan dan perut yang semakin maju memang membuat tinggi lompatan dibawah lompatan ketika masih muda dulu di SMA. Semua itu benar-benar menguras tenaga (halah.. perhitungan amat). Ketika Sidik mengingatkan pertandingan sebentar lagi dimulai saya memang menyudahi permainan, namun pindah lagi ke lapangan sebelah untuk melakukan passing-passingan karena masih belum puas. Ternyata beberapa anak 2007 memiliki passing yang berkualitas. Baru ketika akan mulai, saya turun kelapangan. Saat itu sedikit panik, tidak hanya karena sudah kecapean duluan tapi juga belum warming up khusus buat bertanding. Hal ini diperparah dengan belum hadirnya Salman dan Niko dilapangan. Ternyata Salman tidak bisa datang karena harus kuliah dan Niko masih dikamar mandi (lama bangat). Mencoba untuk sedikit tenang dengan berdoa bersama dan menurunkan line up seadanya.

Nervous

Tak bisa dipungkiri, gol cepat mereka pada serangan pertama benar-benar mengubah jalannya pertandingan. Gol ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita bermain taktis dan berkonsentrasi sejak awal. Gol ini tentunya menaikkan moral mereka yang didukung dengan tulus dan penuh antusias oleh puluhan anak 2007. Bagi Ganteng FC tentunya merusak konsentrasi, membuat nervous, dan sedikit banyak mempengaruhi rasa percaya diri.

Permainan yang Monoton

Ada pola yang telah disiapkan untuk pertandingan pagi itu. Formasi (2-1-1) saat defense, (1-1-2) saat offense, dan (1-2-1) atau Diamond pada saat default mengatur ritme pertandingan. Ketidakhadiran Salman dan Niko diawal pertandingan membuat kami bermain dengan pola (2-0-2) dengan 2 orang Centre Back (CB) yaitu Aqien dan Bari, dan dengan 2 orang Wings Forward (WF) yaitu saya dan Sidik. Kami meninggalkan lapangan tengah dengan posisi kosong.

Pola penyerangan hanya mengandalkan direct pass ke saya dan Sidik. Ini memang sesuai dengan karakter kami berdua, yaitu bomber yang tidak banyak mengolah bola, langsung ciptakan peluang dan selesaikan. Namun, selain menguras tenaga pola penyerangan seperti ini sangat mudah terbaca oleh lawan. Apalagi mereka memiliki defender yang cukup taktis. Kami belum solid, benar-benar belum solid jika harus bermain satu-dua sentuhan di lapangan tengah, apalagi dari lini belakang. Ini yang membuat permainan berjalan begitu monoton, cenderung membosankan, dan tidak efektif.

Blunder

Blunder merupakan klimkas dari kurangnya persiapan, nervous, dan pola permainan yang monoton. Blunder sekecil apapun dapat menjadi masalah besar dalam sepakbola. Tidak hanya mempengaruhi kedudukan sementara saat itu, tapi juga semangat dan konsentrasi seluruh tim di sisa waktu yang ada. Rasakan bagaimana perasaan para pemain CSKA Moskow ketika susah payah mereka berusaha menjebol gawang Inter (Matchday 3 Grup H Liga Champion), namun kipper mereka membuat blunder dengan gagal menangkap bola sundulan Walter Samuel yang tepat mengarah kepadanya. Rasakan juga bagaimana perasaan Budi Sudarsono dkk. ketika mereka berada dalam semangat yang tinggi untuk menyamakan kedudukan saat melawan Suriah (Matchday1 PPD 2010), namun Markus Horizon kurang sempurna menangkap bola, sehingga bola yang ada di pelukan menerobos melewati kolong kaki dan meluncur ke gawang. Pertandingan di Gelora Bung Karno itu pun berakhir dengan kekalahan timnas 1-4.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, keempat gol yang bersarang di gawang kami merupakan hasil dari blunder. Namun, blunder tidak hanya dilakukan oleh para pemain belakang. Kegagalan pemain depan mengoptimalkan peluang matang menjadi gol juga dapat disebut sebagai sebuah blunder. Peluang pertama kami adalah ketika sebuah lemparan Ilman saya teruskan ke Sidik yang berada di mulut gawang. Namun, tendangan dari jarak sekitar 3 meter dari gawang masih bisa di blok oleh kipper. Saya sendiri mencatat sedikitnya saya memperoleh 3 free header setelah unggul beberapa langkah dari defender dalam pergerakan menjemput bola. Namun, entah mengapa ketiganya tepat mengarah ke kipper.

Dalam petandingan ini saya hanya bisa menyumbang satu gol. Saya berhasil memenangkan duel udara yang melibatkan defender dan kipper ketika sebuah umpan matang hasil tendangan ke dalam, jatuh di jantung pertahanan mereka. Gol itu terjadi pada babak kedua, merubah kedudukan menjadi 1-3 dan sempat mengembalikan kepercayaan diri kami untuk mengejar ketertinggalan. Namun kembali kami melakukan blunder yang harus dibayar mahal dengan terciptnya gol keempat mereka. Meskipun Niko sempat kembali memperkecil kedudukan menjadi 2-4, sampai peluit panjang dibunyikan skor tidak berubah.

Yap, itulah evaluasi yang bisa saya lakukan terhadap permainan kita sabtu kemarin. Ini semua harus kita perbaiki dalam waktu sepekan untuk kembali tampil percaya diri pada pertandingan berikutnya.

Monday, November 5, 2007

HR : Aliansi Manja dan G-Foundation (Part II / III)

see Part I here

Dalam kacamata saya, ada dua topik yang cukup unik yang ada di Fasilkom, yaitu masalah orang-orang yang jarang mandi dan orang-orang yang merasa dirinya ganteng. Kedua topik ini merebak di kampus bundar dan menarik untuk dibicarakan. Bahkan sempat menjadi hits dalam perbincangan, terutama saat-saat awal pembentukan dan sosialisasi Aliansi Manja dan G-Foundation. Aliansi Manja sebagai wadah orang-orang yang jarang mandi dan bangga akan kebiasaannya itu, sedikit banyak telah dibahas dalam partI. Namun, aliansi bersemboyan “Hidup Sehat Tak Perlu Mandi” tersebut lambat laun mulai kehilangan pamornya. Hal ini disebabkan pendirinya telah lulus Agustus lalu dan kesadaran para anggotanya untuk kembali kepada fitrah. Nah, pada kesempatan kali ini Anda akan mengetahui sedikit banyak tentang G-Foundation.

G-Foundation (Ganteng Foundation) merupakan paguyuban yang menaungi orang-orang yang benar-benar ganteng. Seperti telah dijelaskan dalam partI, semakin banyaknya orang yang mengaku ganteng membuat dibutuhkannya suatu sistem yang dapat men-verifikasi tingkat kegantengan seseorang. Ini sebenarnya harapan dari maSuk’03 (bukan nama sebenarrnya), salah satu inisiator dari G-Foundation.

Sebelum berbicara masalah teknis perlu kita definisikan pengertian dari ganteng dan parameter-parameter apa saya yang dapat digunakan untuk mengukurnya. Berdasakan MukerfakI (Musyawarah Kerja Fakultas) G-Foundation, hanya faktor fisik yang menentukan kegantengan seseorang, dan struktur wajah tetap memiliki prosentase terbesar. Keputusan ini memang menimbulkan kontroversi, namun argumen yang diberikan cukup kuat jadi semua pihak dapat menerima dengan lapang dada.

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk melakukan verifikasi tingkat kegantengan seseorang berdasarkan struktur wajahnya. Cara paling mudah adalah dengan menggunakan face recognition. Input dari sistem ini adalah bentuk wajah seseorang dan outputnya adalah nilai yang dapat dipetakan dalam ke dalam interval tingkat kegantengan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana patokan wajah yang ganteng sehingga sistem dapat melakukan komputasi terhadap input yang diterimanya sehingga mendapatkan output yang objektif. Proporsi jarak antara mata-hidung-mulut, kesesuaian model rambut dan bentuk wajah, kebersihan muka, keindahan mata, kemancungan hidung, ataukah kemanisan bibir. Bagaimana menilai tiap parameter tersebut? Dalam sebuah diskusi tertutup, AA mengutarakan solusi untuk mengatasi masalah ini, “Patokannya wajah saya aja! Semakin dekat atau mirip dengan wajah saya, maka semakin ganteng orang tersebut demikian juga sebaliknya.” Solusi kontroversial ini kontan mendapat sambutan dingin dari anggota G-Foundation lainnya.

Lulusnya penggagas utama dari G-Foundation Agustus lalu ditambah banyaknya kontroversi dalam tubuh internal membuat paguyuban ini serasa berjalan ditempat. Namun berbeda dengan isu Mandi Jarang (Manja) yang dibawa oleh Aliansi Manja yang redup seiring dengan kesadaran orang akan pentingnya mandi, isu Ganteng(G) masih cukup santer dibicarakan disini. G-Foundation hampir tidak menampakkan aktifitas, namun pengaruhnya masih ada sampai sekarang.

Ketika Harus Pacaran

Part I : Stranger by The Family

Ketika saya bilang belum punya pacar, ada yang tidak percaya ("masa sih ga ada yang mau?"). Ketika saya bilang belum mau pacaran, sebagian besar heran ("emangnya ga ada yang cantik di kampus?"). Ketika saya bilang nanti aja pacarannya klo dah nikah, sepertinya semua orang tidak percaya ("masa pacaran abis nikah trus kenal calon istrinya gmn?")

“Ngapain lo beli buku ginian? Emang masih zaman?”, seorang teman bertanya melihat satu dari empat buku yang jumat(26/10) pagi saya beli di bursa NF. Buku itu berjudul sama dengan judul postingan ini. Buku kecil ini memang terlihat kontras dengan tiga buku lainnya yang saya beli disaat bersamaan. Berbeda dengan tiga buku lainnya yang akan saya konsumsi sendiri, buku ini memang rencananya akan saya hadiahkan kepada salah seorang mentee baru di SMP yang duduk di kelas VII. Ya… sekedar buat pembekalan sekaligus mengenalkan mereka pada buku-buku islami. Sampai saya menulis paragrap ini, buku itu belum saya baca. Skimming pun tidak. Waktu memilih, saya sangat tertarik dengan judulnya.

Berbicara soal pacaran, ini hal yang membuat saya terlihat aneh di keluarga dan di lingkungan sekitar rumah. Ya.. aneh karena punya pandangan/konsep yang berbeda tentang pacaran paling tidak sampai saat ini. Ibu saya anak terakhir sedangkan bapak anak pertama. Apa ngaruhnya? Konsekuensinya adalah, dibandingakan sepupu lainnya, saya cucu termuda pada keluarga ibu sedangkan pada keluarga bapak saya cucu laki-laki tertua. Sepupu dari keluarga ibu sebagian besar sudah menikah pada usia diatas 25 tahun. Sebelumnya mereka berpacaran rata-rata dua sampai empat tahun dengan wanita yang kini menjadi istrinya. Pacarannya pun cukup berkelas, cuma sekali dan berakhir di pelaminan. Ketika saya sekeluarga bersilaturahim ke rumah kakak dari ibu saya, terutama saat-saat lebaran, teman wanitanya tersebut sudah terlihat seperti keluarga sendiri walaupun statusnya waktu itu masih pacaran. Seharian penuh membantu calon mertua di rumah menyambut keluarga yang datang. Bantu menyiapkan makanan, ngobrol dengan kita para sepupunya tanpa canggung, dll.

Di keluarga bapak lain lagi ceritanya. Soal yang satu ini, saya kalah jauh dengan dua adik sepupu laki-laki saya, Andri (20th) dan Angga(15th). Andri sudah beberapa kali pacaran. Kok bisa ya? Padahal saya kenal benar dengan dia karena 10 tahun sekolah bareng (dari TK sampai SMP). Dia anak yang pendiam, pemalu, dan kurang supel. Mungkin banyak yang berubah setelah SMP. Saya pertama kali mengetahui wajah pacarnya saat mau meminjam kamera digitalnya untuk dibawa ke Lampung. Ternyata seorang wanita berjilbab (lumayan rapi) yang katanya bertemu di tempat mereka bekerja. Terakhir Andri menunjukkan foto-foto bersama mereka lewat HP pacarnya (lagi tukeran). Nah, klo Angga beda lagi. Dia pacaran dengan anak ustadz sekitar yang usianya dua tahun lebih tua. Sempet tidak percaya, tapi ini dibenarkan oleh ibunya sendiri. Walau keliatannya parah, pas saya tanya pacarannya ngapain aja dia mengaku, “ga ngapa-ngapain, apalagi pas dia (si anak Ustadz itu) dikirim ke pesantren pas SMA”.

Kondisi ini sedikit banyak memberi tekanan terutama saat lebaran kemarin. Saat kumpul di keluarga ibu hal paling sering ditanyakan pada saya adalah masalah kuliah (jurusan apa, dah semester berapa, kapan lulus). Diantara sepupu lainnya hanya saya yang belum menyelesaikan kuliah, jadi masih dianggap anak bawang. Pertanyaan tentang pacar juga tidak kalah sering, walaupun terkadang dengan nada iseng. Kalau di keluarga bapak, yang paling sering masalah pekerjaan (kerja dimana, dah mapan). Anak seumuran saya di keluarga (trah) dan lingkungan bapak di kampung biasanya sudah pada mandiri. Tentang pacar juga hampir selalu ditanyakan. Yang satu bertanya tentang kuliah dan pacar, yang satunya soal pekerjaan dan pacar. Apa pacaran sudah menjadi hal wajib sehingga menjadi topik primer yang musti dibicarakan?

Ketika saya bilang belum punya pacar, ada yang tidak percaya (masa sih ga ada yang mau?). Ketika saya bilang belum mau pacaran, sebagian besar heran (emangnya ga ada yang cantik di kampus?). Ketika saya bilang nanti aja pacarannya klo dah nikah, sepertinya semua orang tidak percaya (masa pacaran abis nikah trus kenal calon istrinya gmn?). Mereka malah memberikan saran supaya pacaran sebelum nikah. Klo di keluarga ibu biasanya, “Liat Mas Ini dan Mas Itu, pacaran dulu sampe bertahun-tahun, jadinya pas nikah udah bener-bener cocok dan saling kenal. Rumah tangganya langgeng kan”. Klo di keluarga bapak biasanya lebih ke tekanan, “Masa kalah sama Andri, dia aja udah berani ngenalin ceweknya ke orang tua, pake jilbab lagi.”

Di internal keluarga sendiri, saat ini sebenarnya tidak ada larangan untuk berpacaran. Kedua kakak saya membolehkan. Bapak juga demikian dengan syarat bisa jaga diri. Nah, Ibu juga tidak melarang klo mau pacaran, yang penting kalau mau nikah nanti diatas usia 25 tahun.

Sebenarnya saya tidak pernah mau ambil pusing dengan hal-hal diatas. Tapi entah mengapa… berbagai realita, saran, tekanan, dan peluang ada di depan mata dengan begitu terbukanya. Coba membaca buku yang baru saya beli tadi, mungkin ada jawabannya. Pas skimming, ternyata tidak sama sekali! Buku itu didesain untuk para remaja (ABG) yang baru puber. Jadi domain masalahnya dan penyikapannya memang berbeda. Terlalu kadaluarsa buat saya. Saya kira tantangan untuk berpacaran berakhir setelah lulus SMA. Ternyata memasuki babak baru. Haruskan menerima saran dengan sedikit memanfaatkan peluang atau tetap mempertahankan prinsip berdasarakan pemahaman? Apa Kata Dunia Persilatan Nantinya?

to be continued…

Biarkan Foto yang Berbicara

Sebenarnya dari dulu ingin sekali menulis tentang pengalaman mudik tahun ini. Kenapa? Karena begitu berkesan dibandingkan mudik-mudik sebelumnya. Bayangkan saja, kali ini saya diberi begitu banyak kebebasan. Mau jalan-jalan kemana saja, dengan siapa aja, dan kapan saja. Banyak tempat yang menarik, ada kendaraan yang stanby dibawa kemana-mana, dan banyak saudara dan teman yang siap menemani. Hmm.. begitu mengasyikkan.

Ya.. tapi itulah masalahnya. Saking berkesannya, saya sampai tidak dapat membatasi jika harus menuliskan dengan kata-kata. Tak terbayangkan jika hari demi hari harus diceritakan. Untuk itu saya membiarkan foto-foto saja yang berbicara. Slide show mereka akan tetap menyimpan kenangan saya disana.

...