Final Version...
Sabtu(10/11) waktu setempat Tim Ganteng FC dipecundangi oleh Tim If And Only If dengan skor 2-4 (0-3) dalam lanjutan penyisihan Grup B CS League 0708. Hal yang menyakitkan adalah Para Pendekar Ganteng, yang pada pertandingan perdana menghancurkan Tim The Backyardigans dengan skor 10-0 ini, dipaksa mengakui kekalahan terhadap tim yang bermaterikan anak-anak 2007 itu dihadapan puluhan anak-anak fasilkom yang sedang mengikuti Sabtu Ceria.
Kesal, kecewa, sedih, stress, itulah perasaan saya ketika peluit panjang mengakhiri pertandingan pagi itu. Seolah tidak percaya bahwa kami baru saja dikalahkan oleh tim kemarin sore. Saya yakin hal ini juga dirasakan oleh Para Pendekar Ganteng lainnya. Secara eksplisit itu tergambar dari tatapan kosong dan raut muka kecewa yang tidak dapat disembunyikan oleh Ilman, Sidik, Niko, Bari, Aqien, dan Ichsan seusai pertandingan. Hasil buruk ini tentunya memberikan tantangan lebih berat kepada Ganteng FC untuk lolos dari Grup B yang banyak dibilang sebagai grup neraka. Bukan karena grup ini dihuni oleh para penghuni neraka, tapi karena dihuni oleh papan atas fasilkom seperti 3309 (juara CS League 07), GJTG (The best of 2005+), Airbone (The best of 2004+), dan juga si kuda hitam Mourinho FC. Ganteng FC yang notabene merupakan metaformosis dari Compaq FC (runner up CS League 07) harus bersaing dengan mereka dan 6 tim lainnya, yang tidak bisa diremehkan, untuk masuk dalam zona 4 besar Grup B dan lolos ke babak play off.
Saya tidak mau mengomentari permainan lawan. Mereka memang bermain baik. Penuh semangat, determinasi tinggi, kerjasama yang baik, dan beberapa pemain memiliki teknik futsal yang lumayan (hmm… katanya ga mau komentar). Saya hanya ingin sedikit mengkritik permainan Ganteng FC (termasuk saya). Dalam pertandingan tersebut kami tampil kurang semangat, kurang tenang, dan kurang konsentrasi. Hasilnya adalah banyak melakukan blunder (salah passing, miscommunication) terutama pada lini belakang, dan gagal mengoptimalkan sejumlah peluang di lini depan. Kalau mau jujur 4 gol yang mengoyak gawang Ilman bukan berasal dari skema penyerangan yang cantik tapi berasal dari blunder dan kemelut yang ada di depan gawang. Bahkan kalau mau lebih jujur lagi, kami sebenarnya bisa mencetak lebih dari 2 gol jika dapat mengoptimalkan sejumlah peluang yang seharusnya 90% menjadi GOAL.
Saya mencatat ada beberapa hal, baik teknis maupun nonteknis, yang menjadi penyebab kekalahan, diantaranya:
Minimnya Persiapan
Sebelum pertandingan melawan The Backyardigans kami sempat melakukan beberapa persiapan diantaranya latihan pada H-3, datang dan pemanasan 30 menit sebelum pertandingan, dan pengaturan taktik dan strategi. Pada pertandingan kali ini sepertinya semuanya tidak kami lakukan sebaik kemarin. Entah karena ada deadline tugas pada minggu ini, fokus kembali pada mabim, beberapa ada yang ujian pada hari jumat, atau konsentari yang terpecah karena harus mengurusi Sabtu Ceria. Saya sendiri orang yang perfeksionis, jadi seringkali tidak percaya diri jika melakukan sesuatu, termasuk pertandingan olahraga resmi seperti ini, dengan persiapan minimalis. Pada pertandingan sebelumnya saya datang 30 menit sebelum pertandingan bersama Sidik. Tak kurang 12 putaran lapangan basket saya lalui dengan berlari berbagai gaya untuk menggerakkan seluruh tubuh, tak kurang 10 menit saya habiskan untuk juggling mengakrabkan bola dengan sepatu supaya menghasilkan sentuhan-sentuhan yang harmonis, dan tak kurang 10 menit pula untuk melakukan latihan passing, dribbling, dan shooting. Beberapa saat sebelum pertandingan pun kami sempat mengatur taktik dan stategi secara matang termasuk formasi dan starting line up terbaik.
Pertandingan kali ini dijadwalkan berlangsung pukul 9, saya tiba sekitar pukul 8.20, jadi ada waktu 40 menit untuk warming up sebelum pertandingan. Namun, ketika sampai di Poltek banyak yang bermain voly di lapangan atas dengan bola biru-kuning. Seketika itu juga tangan saya terasa gatal. Saya lebih tahan melihat bola futsal daripada bola voly. FYI, percaya atau tidak, saat kelas X SMA saya pernah tidur beberapa hari dengan bola voly biru-kuning dan merah-hijau dalam pelukan. Anda harus merasakan bagaimana kelembutan kulit yang menyelimutinya, gemulai landai gerak parabolanya saat kita melakukan passing dengan benar, dan betapa cantik putihnya dia ketika bersih terawat. Saya pernah jatuh hati kepadanya sampai-sampai saya tak segan memberikan hukuman kepada anak voly yang menendang bola di luar permainan. Saya harus bersabar untuk bersentuhan dengannya karena harus pemanasan dulu. Namun, baru 3 putaran lari mengelilingi lapangan voly saya sudah tidak kuat menahan rasa gatal untuk bersentuhan dengannya. Maklumlah terkahir kali menyentuh itu saat langab 14 dan terakhir kali main itu saat Olimpiade UI 2007. “Pemanasannya sekalian main voly aja deh, toh ga apa-apa kan cuma main-main”.
Hmm… ternyata ini kesalahan besar. Walaupun dipenuhi canda tawa, saya bermain dengan sepenuh hati. Total saya melakukan lebih dari 25 kali push up sebelum servis demi mengembalikan kekuatan tangan. Awalnya anak-anak 2007 pada tertawa, namun akhirnya mereka kagum dan ikut push up bareng ketika saya mau servis. Berkali-kali juga saya melakukan lompatan-lompatan di depan net, bukan untuk me-smash, tapi untuk mengukur tinggi lompatan. Jarang latihan dan perut yang semakin maju memang membuat tinggi lompatan dibawah lompatan ketika masih muda dulu di SMA. Semua itu benar-benar menguras tenaga (halah.. perhitungan amat). Ketika Sidik mengingatkan pertandingan sebentar lagi dimulai saya memang menyudahi permainan, namun pindah lagi ke lapangan sebelah untuk melakukan passing-passingan karena masih belum puas. Ternyata beberapa anak 2007 memiliki passing yang berkualitas. Baru ketika akan mulai, saya turun kelapangan. Saat itu sedikit panik, tidak hanya karena sudah kecapean duluan tapi juga belum warming up khusus buat bertanding. Hal ini diperparah dengan belum hadirnya Salman dan Niko dilapangan. Ternyata Salman tidak bisa datang karena harus kuliah dan Niko masih dikamar mandi (lama bangat). Mencoba untuk sedikit tenang dengan berdoa bersama dan menurunkan line up seadanya.
Nervous
Tak bisa dipungkiri, gol cepat mereka pada serangan pertama benar-benar mengubah jalannya pertandingan. Gol ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita bermain taktis dan berkonsentrasi sejak awal. Gol ini tentunya menaikkan moral mereka yang didukung dengan tulus dan penuh antusias oleh puluhan anak 2007. Bagi Ganteng FC tentunya merusak konsentrasi, membuat nervous, dan sedikit banyak mempengaruhi rasa percaya diri.
Permainan yang Monoton
Ada pola yang telah disiapkan untuk pertandingan pagi itu. Formasi (2-1-1) saat defense, (1-1-2) saat offense, dan (1-2-1) atau Diamond pada saat default mengatur ritme pertandingan. Ketidakhadiran Salman dan Niko diawal pertandingan membuat kami bermain dengan pola (2-0-2) dengan 2 orang Centre Back (CB) yaitu Aqien dan Bari, dan dengan 2 orang Wings Forward (WF) yaitu saya dan Sidik. Kami meninggalkan lapangan tengah dengan posisi kosong.
Pola penyerangan hanya mengandalkan direct pass ke saya dan Sidik. Ini memang sesuai dengan karakter kami berdua, yaitu bomber yang tidak banyak mengolah bola, langsung ciptakan peluang dan selesaikan. Namun, selain menguras tenaga pola penyerangan seperti ini sangat mudah terbaca oleh lawan. Apalagi mereka memiliki defender yang cukup taktis. Kami belum solid, benar-benar belum solid jika harus bermain satu-dua sentuhan di lapangan tengah, apalagi dari lini belakang. Ini yang membuat permainan berjalan begitu monoton, cenderung membosankan, dan tidak efektif.
Blunder
Blunder merupakan klimkas dari kurangnya persiapan, nervous, dan pola permainan yang monoton. Blunder sekecil apapun dapat menjadi masalah besar dalam sepakbola. Tidak hanya mempengaruhi kedudukan sementara saat itu, tapi juga semangat dan konsentrasi seluruh tim di sisa waktu yang ada. Rasakan bagaimana perasaan para pemain CSKA Moskow ketika susah payah mereka berusaha menjebol gawang Inter (Matchday 3 Grup H Liga Champion), namun kipper mereka membuat blunder dengan gagal menangkap bola sundulan Walter Samuel yang tepat mengarah kepadanya. Rasakan juga bagaimana perasaan Budi Sudarsono dkk. ketika mereka berada dalam semangat yang tinggi untuk menyamakan kedudukan saat melawan Suriah (Matchday1 PPD 2010), namun Markus Horizon kurang sempurna menangkap bola, sehingga bola yang ada di pelukan menerobos melewati kolong kaki dan meluncur ke gawang. Pertandingan di Gelora Bung Karno itu pun berakhir dengan kekalahan timnas 1-4.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, keempat gol yang bersarang di gawang kami merupakan hasil dari blunder. Namun, blunder tidak hanya dilakukan oleh para pemain belakang. Kegagalan pemain depan mengoptimalkan peluang matang menjadi gol juga dapat disebut sebagai sebuah blunder. Peluang pertama kami adalah ketika sebuah lemparan Ilman saya teruskan ke Sidik yang berada di mulut gawang. Namun, tendangan dari jarak sekitar 3 meter dari gawang masih bisa di blok oleh kipper. Saya sendiri mencatat sedikitnya saya memperoleh 3 free header setelah unggul beberapa langkah dari defender dalam pergerakan menjemput bola. Namun, entah mengapa ketiganya tepat mengarah ke kipper.
Dalam petandingan ini saya hanya bisa menyumbang satu gol. Saya berhasil memenangkan duel udara yang melibatkan defender dan kipper ketika sebuah umpan matang hasil tendangan ke dalam, jatuh di jantung pertahanan mereka. Gol itu terjadi pada babak kedua, merubah kedudukan menjadi 1-3 dan sempat mengembalikan kepercayaan diri kami untuk mengejar ketertinggalan. Namun kembali kami melakukan blunder yang harus dibayar mahal dengan terciptnya gol keempat mereka. Meskipun Niko sempat kembali memperkecil kedudukan menjadi 2-4, sampai peluit panjang dibunyikan skor tidak berubah.
Yap, itulah evaluasi yang bisa saya lakukan terhadap permainan kita sabtu kemarin. Ini semua harus kita perbaiki dalam waktu sepekan untuk kembali tampil percaya diri pada pertandingan berikutnya.