Dia atau Bidadari?
“Tinggalkanlah olehmu apa yang dicetak dari tanah liat, dan curahkanlah kesenanganmu pada bidadari yang bermata jeli (di surga nanti)”
(Dzun Nun)
Suatu siang selepas Dzuhur, beberapa hari sebelum Ramadhan, seorang ikhwan yang sedang duduk santai bersama di sekre square menegur saya, “Jaga pandangan Chan...!”. Sebuah teguran yang pelan tapi cukup untuk menyentak saya yang pada saat itu membiarkan kedua mata ini memandang ‘liar’ ke kerumunan ‘makhluk’ di sekre square. Sebuah kalimat yang semasa SMA dulu hampir setiap hari terdengar. Namun, di kampus, saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali mendengar kalimat ini. Saya pikir kalimat ini sudah tidak ada dalam kamus tausiyah dunia kampus.
Hmm... Menjaga pandangan memang membutuhkan motivasi yang kuat. Tak heran banyak ikhwan yang tergelincir atau sengaja (secara legal) menggelincirkan diri dalam hal ini. Sebenarnya banyak motivasi mulai dari bahaya mengumbar pandangan sampai keutamaan menjaga pandangan. Namun, ada motivasi yang masih terngiang di pikiran saya. Barang siapa yang pada hari ini sibuk memandangi wanita yang cantik-cantik, hendaklah ia membuat perbandingan antara mereka dan bidadari, agar ia mengetahui perbedaan antara keduanya.
Bidadari apakah bidadari itu? Matahari menjadi pudar karena kecantikan wajahnya yang bersinar dan senyumannya memancarkan cahaya yang menyilaukan bagaikan kilat yang muncul dari gigi serinya. Seandainya bidadari muncul di dunia niscaya dia akan memenuhi bumi dan langit dengan keharumannya, niscaya semua mulut manusia berdecak kagum mengucapkan takbir, tahlil, dan tasbih, dan niscaya dia menghiasi kawasan timur dan barat. Manakala mata tertidur setelah memandangnya niscaya pudarlah cahaya matahari sebagaimana cahaya matahari menutupi cahaya bintang-bintang. Tentulah semua manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman kepada Allah Yang Hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.
Kain kerudung yang menutupi kecantikan wajahnya lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kalau demikian, bagaimanakah dengan kecantikannya? Kulitnya yang putih memancarkan cahaya di balik tujuh lapis pakaian yang menutupinya. Bagaimanakah dengan cahayanya? Seandainya Allah tidak menetapkan pada penghuni surga untuk hidup kekal, tentulah mereka mati karena kecantikan bidadari yang luar biasa. Bagaimana menurutmu dengan seorang istri yang apabila tersenyum dihadapan suaminya, senyumannya menerangi surga? Apabila ia berpindah dari suatu istana ke istana yang lain, menjadi sedikitlah perpindahan matahari ini dalam garis-garis edarnya. Semua itu merupakan suatu kepastian, sedangkan kamu sibuk dengan bangkai. [KHA06] Hal 35
Apa yang saya lihat dan kagumi selama ini mungkin adalah bunga yang tertanam benih iman pilihan. Namun, tidak menutup kemungkinan itu hanyalah bunga palsu dengan mahkota indah yang menutupi ke_____annya dan coba menarik serangga bodoh. Seindah apapun dia dan sebebas apapun kita bisa memandanganya di dunia, jika itu pandangan yang masih diharamkan Allah maka sungguh tidak akan sebanding jika taruhannya adalah bidadari surga. Saya tidak begitu tahu bagaimana seorang akhwat dapat menjadi bidadari surga. Namun, bagi para ikhwan yang mendambakan bidadari surga, hendaklah memperhatikan untaian renungan keimanan berikut!
Barangsiapa yang mengekang pandangannya pada hari ini dari tanah liat, dia akan mengumbarnya pada hari kemudian dengan meyaksikan bidadari-bidadari. Barangsiapa yang mengumbarnya pada hari ini, Allah akan mengharamkannya di hari kemudian. Manakala para syuhada mengorbankan jiwa mereka di jalan-Nya, Allah membalas mereka dengan kenikmatan yang abadi di sisi-Nya. Manakala mereka meninggalkan istri-istri mereka di dunia, Allah menggantinya bagi tiap-tiap orang diantara mereka dengan 72 bidadari sebagai istrinya. [KHA06] Hal 36
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
(AnNur:30)
Anjuran bagi para laki-laki pada ayat diatas setara dengan anjuran mengenakan jilbab bagi wanita karena ditempatkan tepat sebelum ayat tersebut (AnNur:31) dengan redaksi yang sama. Jadi bagaimana, pilih mengumbar pandangan dengannya atau mendapatkan calon Bidadari-Bidadari Anda di akhirat nanti? Berat tapi tidak bagi orang-orang yang sabar dan mau berpikir.
Referensi :
[KHA06] Khalid, Abu Syahdi, Bisnis yang Tak Pernah Rugi : Tips Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat, Hal 35-36 (Dalam Transaksi I Jangan Kamu Iringi Pandangan dengan Pandangan Berikutnya), Rabbani Press, Muharam 1427H /Februari 2006M


