Ketika saya bilang belum punya pacar, ada yang tidak percaya ("masa sih ga ada yang mau?"). Ketika saya bilang belum mau pacaran, sebagian besar heran ("emangnya ga ada yang cantik di kampus?"). Ketika saya bilang nanti aja pacarannya klo dah nikah, sepertinya semua orang tidak percaya ("masa pacaran abis nikah trus kenal calon istrinya gmn?")
“Ngapain lo beli buku ginian? Emang masih zaman?”, seorang teman bertanya melihat satu dari empat buku yang jumat(26/10) pagi saya beli di bursa NF. Buku itu berjudul sama dengan judul postingan ini. Buku kecil ini memang terlihat kontras dengan tiga buku lainnya yang saya beli disaat bersamaan. Berbeda dengan tiga buku lainnya yang akan saya konsumsi sendiri, buku ini memang rencananya akan saya hadiahkan kepada salah seorang mentee baru di SMP yang duduk di kelas VII. Ya… sekedar buat pembekalan sekaligus mengenalkan mereka pada buku-buku islami. Sampai saya menulis paragrap ini, buku itu belum saya baca. Skimming pun tidak. Waktu memilih, saya sangat tertarik dengan judulnya.
Berbicara soal pacaran, ini hal yang membuat saya terlihat aneh di keluarga dan di lingkungan sekitar rumah. Ya.. aneh karena punya pandangan/konsep yang berbeda tentang pacaran paling tidak sampai saat ini. Ibu saya anak terakhir sedangkan bapak anak pertama. Apa ngaruhnya? Konsekuensinya adalah, dibandingakan sepupu lainnya, saya cucu termuda pada keluarga ibu sedangkan pada keluarga bapak saya cucu laki-laki tertua. Sepupu dari keluarga ibu sebagian besar sudah menikah pada usia diatas 25 tahun. Sebelumnya mereka berpacaran rata-rata dua sampai empat tahun dengan wanita yang kini menjadi istrinya. Pacarannya pun cukup berkelas, cuma sekali dan berakhir di pelaminan. Ketika saya sekeluarga bersilaturahim ke rumah kakak dari ibu saya, terutama saat-saat lebaran, teman wanitanya tersebut sudah terlihat seperti keluarga sendiri walaupun statusnya waktu itu masih pacaran. Seharian penuh membantu calon mertua di rumah menyambut keluarga yang datang. Bantu menyiapkan makanan, ngobrol dengan kita para sepupunya tanpa canggung, dll.
Ketika saya bilang belum punya pacar, ada yang tidak percaya (masa sih ga ada yang mau?). Ketika saya bilang belum mau pacaran, sebagian besar heran (emangnya ga ada yang cantik di kampus?). Ketika saya bilang nanti aja pacarannya klo dah nikah, sepertinya semua orang tidak percaya (masa pacaran abis nikah trus kenal calon istrinya gmn?). Mereka malah memberikan saran supaya pacaran sebelum nikah. Klo di keluarga ibu biasanya, “Liat Mas Ini dan Mas Itu, pacaran dulu sampe bertahun-tahun, jadinya pas nikah udah bener-bener cocok dan saling kenal. Rumah tangganya langgeng
Di internal keluarga sendiri, saat ini sebenarnya tidak ada larangan untuk berpacaran. Kedua kakak saya membolehkan. Bapak juga demikian dengan syarat bisa jaga diri. Nah, Ibu juga tidak melarang klo mau pacaran, yang penting kalau mau nikah nanti diatas usia 25 tahun.
Sebenarnya saya tidak pernah mau ambil pusing dengan hal-hal diatas. Tapi entah mengapa… berbagai realita, saran, tekanan, dan peluang ada di depan mata dengan begitu terbukanya. Coba membaca buku yang baru saya beli tadi, mungkin ada jawabannya. Pas skimming, ternyata tidak sama sekali! Buku itu didesain untuk para remaja (ABG) yang baru puber. Jadi domain masalahnya dan penyikapannya memang berbeda. Terlalu kadaluarsa buat saya. Saya kira tantangan untuk berpacaran berakhir setelah lulus SMA. Ternyata memasuki babak baru. Haruskan menerima saran dengan sedikit memanfaatkan peluang atau tetap mempertahankan prinsip berdasarakan pemahaman? Apa Kata Dunia Persilatan Nantinya?
to be continued…



1 comments:
Pacaran bukan merupakan segalanya
mungkin kebetulan "pacaran" hanya merupakan salah satu topik pembicaraan aja
jadi elu aga risih dengernya =P
btw, thanks for sharing
Post a Comment