“It’s not difficult for you. The problem is you only have two hours. If you have 24 hours, I believe all of you will have excellent score.” (Ms. Hilda)
Sabtu (17/5) pagi kemarin kelas TOEFL Preparation di LBI FIB UI. Ada kalimat yang tersimpan dalam long term memory saya. Sebuah kalimat dari Ms Hilda, fasilitator sesi pertama, yang kembali menyadarkan saya akan beberapa hal.
Tingkat kesulitan TOEFL memang tidak begitu tinggi, maksudnya sebagian besar soal dapat kita selesaikan dengan benar. Namun, sayangnya waktu yang disediakan untuk menyelesaikannya terbatas. Jadi memang harus benar-benar dipersiapkan dengan matang jika menginginkan hasil yang optimal.
Best Preparation Best Performance
Sekali lagi, sama seperti SPMB, TOEFL bukan ajang adu kepintaran, kecerdasan, apalagi kegantengan. Lebih kepada adu persiapan. Best Preparation Best Performance. Mungkin kesimpulan subjektif karena keluar dari seorang melankolis. Tapi tidak juga. Setelah digeneralisasi, ternyata banyak hal yang lebih merupakan adu persiapan.
Senangnya andai bisa tampil optimal pada setiap hal yang kita tekuni. Dalam hal apapun, dimanapun, kapanpun, dan bersama siapapun. Menjadi anggota maupun pemimpin dalam organisasi dan bisnis. Menjadi akademisi di kampus. Menjadi seorang hamba di mata Sang Pencipta. Memberikan banyak manfaat dan tidak mendzalimi siapapun, termasuk diri sendiri.
Mencintai Cinta
Memimpin tiga organisasi dan memegang tiga amanah stategis pada tiga organisasi lainnya bukan hal mudah. Jika dikalkulasi terhadap semua kegiatan, memang sudah melebihi batas rasional. Sepertinya saya butuh 3x24jam sehari untuk melakukan ini semua. Mungkin ini hikmah dibalik hilangnya buku agenda.
Namun demikian, saya bersyukur. Alhamdulillah saat ini saya menikmati semua amanah dan peran yang saya jalani. Saya tidak akan mengeluh apalagi mengkambinghitamkan hal lain selain diri saya jika menemui kegagalan bahkan sedikit ketidakoptimalan sekalipun.
Coba berlapang dada, terus dan terus evaluasi dan meningkatkan kualitas diri. Menyadari waktu yang kita miliki lebih sedikit dari pekerjaan yang harus kita lakukan. Meyakini Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita. Melakukan apa yang kita cintai dan coba mencintai apa yang kita lakukan.
Dia Pun Tersenyum
Dua moment menarik juga saya dapatkan pekan ini. Ketika sesi qada yara wa’i mentoring dan sesi tahliful qulub BPH Kalam. Pada dua kesempatan berbeda tersebut, seorang mentee dan seorang Kadep curhat mengenai kesibukannnya. Mereka tampak kepayahan atas amanah mereka. Saya tersenyum dan dalam hati berkata Andai Antum tahu amanah Ane yaa Akhi...
Saya yakin masih banyak orang yang jauh lebih sibuk dari saya. Terlepas mereka mencintai apa yang mereka lakukan atau tidak. Mereka pasti akan tersenyum jika melihat saya merasa kepayahan. Bahkan mungkin Allah swt, Tuhan yang Maha Mengatur Langit dan Bumi, pun akan tersenyum. Ya ampun nih anak ‘lucu’ bangat, baru dikasih ujian segini.
Entahlah... tapi rasanya sangat menyenangakan jika bisa memberikan alokasi waktu, tenaga, dan pikiran yang cukup dalam setiap amanah, termasuk menjadi mahasiswa yang berkewajiban untuk belajar dengan serius. Namun, sepertinya hanya mimpi di siang bolong jika berharap bisa ber-euforia dalam akademis.
‘Aneh’nya Anum...
Yang paling terasa adalah Anum. Entah udah berapa kali absen. Dari alasan nemenin Ipur persiapan sidang, briefing PKM, ngejar deadline PPL, sampai berangkat kesiangan. Di kelas lebih banyak bengongnya kalau sudah ketinggalan. Sehari sebelum UTS juga have fun seharian ngurusin 200-an anak pada daurah SMP se-kramat jati di UI. Seperti tidak sadar klo Anum besok ujian dan belum persiapan apa-apa. Jadilah 12 jam menjelang ujian, habis-habisan belajar bareng ‘ngebantai Anum’ bersama si Pur dkk. di kober. Ga tidur ga tidur deh.
Alhamdulillah hasilnya walau tidak terlalu bagus, tapi lumayan lah. Apalagi setelah di kasih tahu nilai rata-rata kelasnya sama Pak Heru di kelas, I’m not so bad. Puncaknya ketika semua nilai di publish di scele. Iseng sort datanya, ternyata I’m the first one.
Hidup memang ‘aneh’ dan penuh misteri, tak terkecuali hasil kuliah yang notabene lebih definitif dan terukur. Ada kuliah yang kita sudah punya dasarnya, belajar dari jauh-jauh hari menjelang ujian, lancar ngerjain tugasnya, tapi hasil akhirnya mengecewakan. Namun, ada juga yang ‘aneh’ kayak Anum ini. Ada yang sudah divonis mati dapet A ternyata tidak. Namun, ada juga yang cukup puas berharap lulus dengan nilai standar tapi malah dapet A.
Hasil memang ditangan Allah dan kewajiban kita hanya menyempurnakan azzam dengan berikhtiar keras kemudian bertawakal dengan menyerahkan segalanya kepada Alah ikhlas menerima apapun hasilnya. Walaupun pertolongan Allah adalah keniscyaan tapi tidak dapat diraih dengan gratis. Perlu kesabaran, pengorbanan, dan usaha yang serius. Senangnya punya teman-teman yang pintar, punya semangat belajar tinggi, dan suka menolong seperti Si Pur dan teman-teman satu kosannya di kober. Pembantaian harus dituntaskan, UAS harus lebih serius klo ga mau menemui hasil buruk seperti yang sudah-sudah. Mudah-mudahan ga ada masalah dengan absent.
Ambil Hikmahnya
Teringat pesan si Boz. Apapun kondisi kita sekarang, percayalah ini adalah kondisi yang menempa kita mencapai hasil yang optimal. Sebuah intisari mendalam mengenai hikmah Sirah Nabawiyah tentang kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya.
Mungkin karena inilah Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di Fasilkom UI, jurusan yang memang benar-benar saya minati. Mungkin karena inilah saya masih tetap cumlaude, paling tidak sampai semester kemarin (soalnya agak pesimis sama semester ini).
Seringkali kita mati-matian menjalankan dan menjaga amanah (walaupun karena hal sepele, tak jarang mengecewakan orang lain). Tanpa disadari, amanah secara otomatis menjaga kita. Menjauhkan kita dari kesia-siaan dunia ketika melihat to do list berisi pekerjaan-pekerjaan besar yang harus segera diselesaikan. Membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan maksiat karena takut hilangnya keberkahan dan pertolongan Allah pada setiap ladang amal yang kita garap.
Yap itulah menariknya hidup. Ketika semua orang diberikan jatah waktu yang sama dalam sehari dan diberikan kebebasan untuk menentukan apa yang harus dilakukannya. Orang-orang besar seperti para pemimpin dunia dan penemu hebat dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Sementara golongan lainnya hanya berkeluh kesah. Semoga kita menjadi orang-orang yang sabar dalam meraih rencana masa depan dan tetap istiqamah menjaga komitmen dalam berjuang. Amin
***
Sabarlah wahai saudaraku
Tuk menggapai cita
Jalan yang kau tempuh amat panjang
Tak sekedar bongkah batu karang
Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang
Walau tak kita hadapi masanya
Tetaplah al haq pasti menang
Tanam di hati benih iman sejati
Berpadu dengan jiwa rabbani
Tempa jasadmu jadi pahlawan sejati
Tuk tegakkan kalimat Ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh
Pastikan Azzammu semakin meninggi
Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi
Namun janji Allah yang akan pasti
(Jalan Juang - Izzatul Islam)